THE END OF LATIN SOCIALISM?

Image

When Hugo Chavez passed away, the whole world was shocking. Nobody could believe his death. This grim news has two sides. The people who support Latin Socialism might be in a great sorrow. Hugo Chavez was a leader and commandante of Latin Socialism. His movement has attracted a lot of people. Without a leader who will guide them, the supporters are in quandary. In the other hand, the people who dedicated themselves as anti-Chavez will see his death as a great opportunity. An opportunity to get out of socialism’s cage which had contained their freedom of expression. With the leader passed away, there are many questions has arisen. Is this the end of Latin Socialism? What will happen after Chavez passed away? Who is the heir that will inherit Chavez’s legacy?

            We may say that the death of Chavez will not end the Latin Socialism. Why? Because, this ideology is very popular and suitable with the condition of South American’s people. The idea of Latin Socialism spread in Latin America, when the gaps between the rich and poor was very high. Chavez implemented this ideology in 1998, when he was elected as a president. According to the American Democracy, an American government textbook, socialism is defined as an economic system in which government owns and controls many of the major industries. Unlike the communist in Eastern Europe, the socialism is not to eliminate the capitalism. Its main goal is to improve the citizen’s quality of life through the most effective means.

            The most popular way in implementing this ideology is nationalizing major industries such as oil, railroads, steel, tin and cooper. Many countries such as Venezuela and Argentina implemented this method. Venezuela succesfully nationalized foreign oil companies in the Orinoco River. Meanwhile, the government of Argentina did the same way by nationalizing Spanish oil company, Repsol. These profits were used for rebuilding hospital for the poor in Venezuela and infrastructure in Bolivia. According to the World Issues, the other reason why Latin Socialism is very popular because it’s a salvation for improving the condition of the poor and promote growth in the economy after the failure of free market. Many Latin’s leader have managed this method succesfully, thus it gains respect from their people. No wonder this ideology hasn’t met its end.

            Nobody will know what will happen when Chavez passed away. But something for sure is the Latin Socialism will not so easily dissapear from the region. Firstly, this ideology is very popular among the people in Latin America as the author’s said. Secondly, there are many Latin’s leader who were once great allied of Chavez used this ideology. Such as Raul Castro in Cuba, Evo Morales of Bolivia, Michele Bachelet from Chile, President Kirchner in Argentina and Rafael Correa from Ecuador. They are great leader, have an influence and popular among their people. In Venezuela itself, this ideology will still remain. Rumor has said that Vice President Nicolas Maduro will be the successor of Chavez. We may conclude that Latin Socialism hasn’t met its end. There are a lot of successors who will inherit Chavez’s legacy. But, one question still remain. Who is that successor? Only time can answer this question. The Latin America needs a new leader who can unite them. Without a visionary leader, the alliance of Socialist Latin America can be divided.

            Chavez left Latin Socialism as his legacy. Unfortunately, he left another legacy that darker than his achievement. He pressed the opposite faction and forbid them to get involved in Venezuela’s domestic politic. He didn’t allow the press to express their freedom of speech. He only allowed the press who supported his cause and silenced all the critics against him. He made the centralization of power, so only the government could control all aspects of life. Although he made unfit decisions, he’s still praised among their people. He was keen and enthusiastic person. He made bold decision for pleasing the poor. He stood against the US where others could not. He may passed away, but his spirits remain. His efforts and charisma will be carved in every hearts who care to improve the people’s life.

Advertisements

Film Indonesia di Ajang Oscar?

Image

          Piala Oscar merupakan ajang prestisius bagi insan perfilman di seluruh dunia. Di ajang inilah, hasil karya sineas dunia diapresiasi. Penghargaan Oscar ini telah berlangsung selama 85 tahun dan telah menelurkan banyak aktor dan aktris berbakat. Pada ajang tersebut, aktor, aktris, sutradara, penulis bahkan tata sinema diperlombakan dan dinilai siapakah yang pantas menjadi juara tiap tahun. Piala Oscar pun setiap tahunnya selalu menghadirkan kejutana. Contohnya adalah kesuksesan film Lord of The Ring yang diadaptasi dari novel J.R.R Tolkien. Film tersebut menjadi simbol kesuksesan adaptasi novel ke film yang ditandai dengan kebangkitan CGI.

            Piala Oscar tahun ini pun menjadi kejutan bagi insan perfilman. Sutradara asal Taiwan yaitu Ang Lee berhasil menyabet penghargaan sebagai sutradara terbaik tahun ini lewat filmnya Life of Pi. Ia berhasil keluar sebagai sutradara terbaik untuk yang kedua kalinya setelah pada tahun 2008 Ang Lee memenangkan piala tersebut lewat karyanya Brokeback Mountain. Ang Lee merupakan sutradara pertama Asia yang menjadi pemenang Piala Oscar untuk kedua kalinya. Perfilman Hollywood memang tidak lagi didominasi oleh aktor atau aktris Amerika dan Eropa. Banyak aktor dan aktris Asia ataupun mereka yang mempunyai keturunan Asia seperti Jackie Chan, Chow Yun Fat, Jet Li, Michelle Yeoh, Lucy Liu dan Ken Watanabe.

            Para sineas Asia kini sudah tidak dipandang sebelah mata lagi oleh perfilman Hollywood. Namun, sineas Asia tersebut masih didominasi oleh insan film China dan India. Kemanakah sineas Indonesia? Tidak dapat dimungkiri bahwa perfilman Indonesia masih jauh tertinggal dari sineas China, Taiwan atau India. Walaupun demikian, perfilman Indonesia setidaknya lebih dinamis dibandingkan negara-negara di Asia Tenggara. Sineas Indonesia telah menghasilkan karya bermutu yang patut dibanggakan dan dikenal oleh masyarakat luar. Sebut saja penanda kebangkitan film Indonesia yaitu Petualangan Sherina. Film fenomenal Mira Lesmana dan Rudi Soedjarwo, Ada Apa Dengan Cinta.

            Disusul film spektakuler bernuansa religi, Ayat-ayat Cinta , film yang sarat motivasi dan menggugah seperti Laskar Pelangi dan Habibie dan Ainun, dan terakhir film yang mendapat perhatian dari sineas Hollywood adalah The Raid. Sineas Indonesia pun berkesempatan bekerjasama dengan sineas Singapura, Inggris dan Jepang dalam film Deadmine yang berlatarbelakang hutan Sumatra. Aktor dan aktris Indonesia pun sedang dan pernah menjajal kemampuan aktingnya bersama bintang-bintang Hollywood. Christine Hakim pernah berakting bersama Julia Roberts dalam film Eat, Pray, Love serta sempat menjadi juri pada ajang film di Cannes, Perancis. Terakhir, aktor Joe Taslim berperang sebagai aktor antagonis dalam film Fast and Furios 6 berkat kepiawaiannya berakting pada film The Raid.

            Pada dasarnya, Indonesia memiliki potensi yang bagus untuk bersaing di ajang Oscar. Untuk membuktikannya, dibutuhkan usaha yang tidak sedikit. Para kreator dan sineas film Indonesia harus terus memberikan karyanya yang terbaik untuk memajukan perfilman Indonesia. Karya mereka tentunya haruslah orisinil dan memiliki karakter kuat bangsa ini. Masyarakat pun haruslah memberikan apresiasi terhadap produk film Indonesia dan tidak memandang rendah hasil karya sineas Indonesia. Bagaimanapun juga, masyarakat adalah “pembeli” dari karya-karya para sineas. Sebagai otoritas tertinggi, pemerintah berkewajiban untuk melindungi hasil karya sineas tersebut dari pembajakan hak cipta. Pemerintah juga mempunyai tugas mempromosikan karya sineas Indonesia di luar negeri sebagai media promosi pariwisata.

            Memajukan perfilman Indonesia tidak bisa mengandalkan satu pihak saja. Semua itu perlu melibatkan semua stakeholder. Mengandalkan upaya sineas saja tidak akan mungkin terwujud. Mereka butuh apresiasi dan dukungan masyarakat Indonesia. Bertumpu pada sineas dan masyarakat juga masih belum cukup. Keterlibatan pemerintah masih diperlukan sebagai pelindung kekayaan intelektual sineas dan promotor karya mereka di mancanegara. Pemerintah seyogiyanya lebih peka terhadap perkembangan film. Ada aspek soft power dari film Indonesia yang berpotensi sebagai kekuatan nasional. Film dapat menjadi media promosi pariwisata yang bisa menambah devisa negara sekaligus menjadi counter dan penyeimbang bagi film-film Barat yang sarat akan hedonisme dengan menghadirkan nilai Timur Indonesia. Apakah film Indonesia mampu muncul di ajang Oscar?

foto source: http://www.shetlandarts.org/celebrate-the-academy-awards-with-shetland-arts-oscar-nominated-films-at-the-garrison-theatre/

Inspirasi dari Tukang Fotokopi.

Tulisan ini bukan bermaksud untuk menjelaskan kebijakan luar negeri AS ataupun perang melawan terorisme. Karena, saya yakin sudah banyak profesor ataupun mereka yang bertitel doktor lebih fasih menjelaskan hal itu. Inti dari tulisan di blog saya ini terinspirasi oleh seorang fotocopy yang sudah uzur dan makan asam garam.

Hari ini adalah hari terakhir pengumpulan draft jurnal untuk mata kuliah Prof. Yan Yan. Sudah menjadi kebiasaan saya untuk selalu menjilid tugas saya di tempat fotokopi depan kampus. Tukang fotokopi itu namanya Edi. Saya selalu memanggilnya Wa Edi sebagai bentuk panggilan hormat saya. Umurnya sekitar 70-an. Saya baru mengenal beliau selama tiga bulan ini. Saya selalu berusaha meluangkan waktu untuk mengobrol dengan mereka yang menjual jasa seperti tukang fotokopi. Alasannya, biar akrab dan bisa mengenal manusia beserta kehidupannya dari banyak sisi.

Hari ini saya mendapatkan pengalaman yang menakjubkan. Hari ini, tidak seperti biasanya Wa Edi menyampaikan unek-uneknya. Biasanya beliau jarang sekali bebrbicara serius seperti itu. Judul draft jurnal saya adalah Kebijakan Luar Negeri AS terhadap Israel: Perang Melawan Terorisme. Ketika Wa Edi sedang sibuk menjilid, tiba-tiba ia bertanya, “Cep, lebih bagus mana perang melawan terorisme atau perang melawan koruptor?”

Secara diplomatis saya jawab, “Kalo kata saya mah, mending koruptor Wa. Da urang mah tinggal di Indonesia.”

Tah, ieu nu aneh di Indonesia mah”, kata Wa Edi. “Naon bedana koruptor jeung maling?

Saya jawab, “Gak ada bedanya Wa. Sarua maok duit.”

“Koruptor itu sama dengan maling gk ada bedanya. Hukumannya juga harus sama. Dina Islam oge, nu maling mah potong tangan. Jadi koruptor oge kuduna potong tangan”, katanya dengan semangat.

Wow! Sejujurnya saya kaget Wa Edi bercerita dengan berapi-api seperti itu. Biasanya dia humoris dan tenang. Wa Edi lalu melanjutkan, “Cep apal teu? Mun elmu nu Cep Iqbal tungtut the, teu kabehanana bener.” Logika akademisi saya melawan, “ Teu bisa Wa. Kan elmu ieu ge keur kamashalatan jelema.”

 

“Iya saya tahu. Elmu ieu teh bisa leungit iraha wae. Da ieu mah buatan jelema. Nu moal leungit mah elmu Allah. Ayana dina Al-Quran jeung hadist.”

Kontan saja, saya tersentak dan termenung. “Yeuh Cep, Wa Edi nanya ayeuna, pentingan mana Iman heula atawa Solat?”

“Penting Iman Wa.”, kata saya.

Leres. Ayeuna mah seueur urang Islam nu solat, tapi angger weh korup. Hartina, solat the ngan senam hungkul. Euweuh imanna. Da iman nu sajati mah yakin yen Gusti Allah teu sare, ningali kana sagala kalakuan urang. Mun iman urang geus nepi ka tahap eta, urang bakal sieun maling, urang bakal solat kanggo Gusti Allah, urang moal daek jadi penjahat.”

“ Hiji deui Cep. Ulah sok adigung mun tos janten magister. Seueur profesor nu teu eling kulantaran teu emut ka Allah. Jelema nu nuturan kana logika wae disebut jelema nu jadi budak hawa nafsu.”, lanjutnya.

“Tetep, saalus-alusna elmu dunya, moal bisa ngalahkeun elmu Allah. Da kabeh elmu teh asalna ti Allah. Nu ku urang meunangkeun mah ngan saeutik.”, katanya sembari memberika tugas yang sudah dijilid.

Jujur saja, setelah percakapan itu saya benar-benar terhenyak. Percakapan itu menjadi tamparan sekaligus cermin bagi saya. Terkadang, kita manusia urban yang selalu merasa teredukasi sering melalaikan ilmu-ilmu Allah yang tersimpan pada rakyat kecil seperti Wa Edi. Logika rasional, sering kita jadikan justifikasi terhadap sesuatu yang belum tentu benar. Peliknya masalah di Indonesia memang tidak terlepas dari minimnya kuriositas terhadap ilmu-ilmu Allah. Terkadang kita terlalu mengagungkan logik Barat untuk menjatuhkan nilai-nilai fundamental ke-Timuran kita.

Semua ilmu itu datangnya dari Allah. Semoga saja ini bisa menjadi inspirasi bagi saya dan siapapun yang membaca tulisan ini. Mohon maaf bila tulisan ini dicampuradukkan dengan Bahasa Sunda, karena penulis tidak ingin kehilangan keaslian cerita.

foto source:http://yusuf1710.wordpress.com/2011/10/03/tukang-fotokopi-ini-sedang-melayaniku/Image

RUMAH ASPIRASI SETIA PERMANA

Image

RUMAH ASPIRASI

SETIA PERMANA

  Oleh: Iqbal Ramadhan

 

Eksistensi rumah aspirasi yang rencana akan dianggarkan oleh lembaga legislatif pusat memang menjadi polemik. Bagaimana tidak, sekitar 155 triliun akan dianggarkan untuk membentuk rumah aspirasi bagi para anggota dewannya. Pro dan kontra terjadi ketika rencana tersebut akan dilaksanakan. Tetapi siapa sangka, salah seorang anggota DPR-RI asal Bandung-Cimahi yaitu Setia Permana telah mempunyai rumah aspirasi sendiri. Bapak Setia membangun rumah aspirasi tersebut dengan menyewa rumah sederhana dengan biaya kontrakan sebesar lima juta rupiah per tahun. Walaupun sederhana, keberadaan rumah aspirasi tersebut setidaknya mampu menampung aspirasi-aspirasi rakyat khususnya warga Bandung-Cimahi.

Konsep awal rumah aspirasi tersebut memang telah muncul ketika pak Setia masih aktif dalam sosialisasi kampanye sekitar tahun 2009. Dalam pandangan beliau, rumah aspirasi memang sangat diperlukan dan vital keberadaannya mengingat tugas dewan sebagai wakil rakyat. Sebagai orang yang berprinsip, pak Setia selalu berpedoman bahwa fungsi dewan hanya ada tiga yaitu budgeting, legislasi dan pengawasan. Jadi tidak ada cerita kalau dewan melakukan tugas-tugas eksekutif seperti melakukan perbaikan jalan atau pembangunan mesjid. Tugas anggota dewan adalah menyampaikan apa yang menjadi aspirasi rakyat serta menyampaikannya mana yang harus diberikan kepada pemerintah daerah dan mana yang harus ke pusat.

Di beberapa kesempatan pada saat kampanye salah satunya di daerah Cihanjuang, pak Setia pernah berujar, “ Rumah aspirasi itu sangat penting. Akan tetapi tidak perlu terlalu mewah. Cukup sederhana saja. Bahkan rumah ini pun bisa saja menjadi rumah aspirasi”. Saat itu beliau mengucapkannya di sebuah rumah kecil di dalam gang yang sempit. Konsep rumah aspirasi yang sederhana terpampang jelas di dalam wacana pak Setia. Karena eksistensinya bukanlah kemewahan melainkan fungsi dan pentingnya sebuah rumah aspirasi.

Untuk membangun rumah aspirasi, beliau menyisihkan sebagian gaji bersihnya untuk menyewa tempat, menganggarkan keperluan operasional dan untuk biaya keperluan lainnya. Koordinator dan orang-orang yang menjalankan rumah aspirasi tersebut adalah sahabat beliau sendiri dan simpatisan yang menamakan dirinya Relawan Setia Permana. Ketika masa reses tiba, rumah aspirasi memegang peranan yang sangat penting.

Reses pada hakikatnya adalah masa kerja anggota dewan di daerah pemilihan. Setia Permana ketika melakukan road show reses, selalu mengingatkan kepada konstituen untuk tidak segan menyampaikan aspirasinya melalui rumah aspirasi yang terletak di Jalan Danuresmaya. Keluhan ataupun uneg-uneg yang berkaitan dengan mitra kerja Komisi III seperti Polri atau Kejaksaan dapat pula disampaikan. Bahkan pak Setia selalu guyon dengan khas Sundanya, “ Upami hoyong sumping ka rumah aspirasi ngan saukur ngadon emam mah mangga. Da sangu sareng angeun haseum mah aya”. (Kalau Cuma ingin datang untuk menumpang makan saja silakan. Sekadar nasi dan sayur asem juga ada)

Setidaknya dengan eksistensi rumah aspirasi tersebut, beberapa keinginan masyarakat seperti biaya pembangunan mesjid ataupun acara karang taruna dapat terwujud. Dalam beberapa obrolan dengan penulis, pak Setia ingin membangun rumah aspirasi itu untuk lebih mandiri. Agar tidak terlalu tergantung kepada gajinya, usaha koperasi simpan pinjam mesti digalakkan di dalam rumah aspirasi. Tujuannya adalah untuk memberdayakan masyarakat sekitar pada umumnya serta relawan secara khusus. Selain itu ketika dewan sudah tidak menjabat lagi, dari usaha koperasi itulah rumah aspirasi dapat dikembangkan menjadi LPM, perpustakaan umum dan bahkan lembaga penelitian.

Sayangnya, konsep-konsep tersebut belum terealisasikan. Pak Setia telah kembali kepada Allah SWT ketika kapal yang ditumpanginya mengalami kecelakaan di Bunaken pada saat kunjungan kerja. Kini rumah aspirasi tersebut mengalami masa-masa ketidakpastian. Apakah harus bubar ataukah bertahan? Tetapi satu yang patut diingat. Walaupun umurnya singkat, rumah aspirasi tersebut mampu memberikan fungsi yang sebenarnya meski berbalut kesederhanaan. Semoga gagasan Setia Permana tentang rumah aspirasi dapat memberikan inspirasi bagi anggota dewan yang benar-benar ingin merakyat.

Penulis adalah alumnus FISIP HI UNPAD.

Dimuat di Kompas Jabar, Agustus 2010

PESAN MORAL DARI NOVEL RAJETNA HATE AWEWE

                                PESAN MORAL DARI NOVEL

                                   RAJETNA HATE AWEWE

                                       Oleh: Iqbal Ramadhan

 

Dikisahkan seorang wanita bernama Mari mengembara ke kota Bandung untuk menempa ilmu sebagai mahasiswi fakultas sastra. Ia sendiri merupakan seorang yatim piatu dan dibesarkan oleh seorang kyai (ajengan) di daerah Ciamis. Seperti selayaknya “wanita kampung”, Mari adalah seorang wanita polos, taat kepada nasihat orang tua dan berpegang teguh pada ajaran agama. Kesehariannya tidak pernah terlepas dari tasbih dan mengaji.

Selama ia menempa ilmu di Bandung-lah, Mari berkenalan pertama kalinya dengan glamoritas kota besar. Menonton film di bioskop atau kongkow di restoran adalah sesuatu yang lumrah di kota sebesar Bandung. Tetapi terasa sangat asing bagi gadis sepolos Mari. Lika liku kehidupannya berlanjut ketika Mari berkenalan dengan pria tampan bernama Sukra, seorang mahasiswa fakultas teknik. Perkenalannya dengan Sukra telah membuat Mari dimabuk asmara dan membutakan mata hatinya sehingga ia lupa pada norma kesusilaan serta melanggar batas-batas agama.

Padahal sang kyai telah membekalinya wasiat ketika ia akan menimba ilmu di Bandung, “…ngadalian karep uteuk ku rasa, ngadalian kahayang rasa ku uteuk”. Artinya adalah setiap keinginan pikiran harus dikendalikan oleh perasaan, begitu pula keinginan rasa harus dikendalikan oleh pikiran. Singkatnya segala sesuatu yang diinginkan harus dipikirkan secara matang. Karena tidak mengindahkan wejangan ini, Mari hamil di luar nikah dan terpaksa meninggalkan bangku kuliah. Penderitaan Mari tidak berakhir sampai di situ, Sukra menelantarkannya dan tidak mengakui jabang bayi tersebut. Dia lebih memilih merantau ke Yogyakarta mengejar mimpi ketimbang bertanggungjawab atas perbuatannya.

Beruntung Mari masih memiliki seorang sahabat bernama Nani yang menampungnya di Jakarta. Selama di ibukota, Mari bekerja untuk menghidupi dirinya dan si bayi yang diberi nama Dodi. Itu pun tidak lama karena ia harus pindah dari Jakarta karena Nani memutuskan untuk menikah. Mari pun memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya tetapi ia lebih memilih menghentikan langkahnya di Purwakarta daripada menanggung malu. Keberuntungan nampaknya belum menaungi Mari. Di tempat ini penyakit TBC memaksanya berhenti bekerja. Setelah tidak memiliki pekerjaan, Sukra kembali kepada kehidupannya serta meminta Dodi untuk dijadikan anak karena dia dan istri barunya tidak mampu memiliki keturunan. Akhirnya Mari lebih memilih merelakan anaknya diasuh oleh Depsos daripada berlabuh dalam dekapan ayahnya yang dahulu tidak bertanggung jawab.

Seperti kebanyakan cerita novel, akhir kisah ini berakhir bahagia. Di sebuah sanatorium, Mari menemukan ketenangan jiwa setelah sebelumnya dia menemui Mama Ajengan yang membesarkannya serta meminta maaf atas segala kesalahannya. Mari memutuskan untuk kembali kepada jalan-Nya yang lurus dan penuh dengan keridhoan-Nya. Dalam ketenangannya itu Mari menemukan keyakinan bahwa kebahagiaan akan datang pada mereka yang dekat kepada-Nya serta dalam lubuk hatinya yang paling dalam  ia memaafkan segala kesalahan yang dilakukan oleh Sukra serta mengikhlaskan segala hal buruk yang telah terjadi padanya di masa lampau.

Itulah sepenggal kisah yang sarat akan makna dan ilmu kehidupan dalam novel yang berjudul Rajetna Hate Awewe (Hancurnya Hati Wanita). Novel ini adalah novel saduran dari bahasa Inggris  berjudul Me, My Baby and God yang dikarang oleh pengarang tanpa nama tahun 1950. Novel ini disadur pertama kali oleh Ermas pada tahun 1967 ke dalam bahasa Sunda. Ermas sendiri adalah nama samaran dari Rachmat Marta Adisubrata seorang sastrawan yang berasal dari Tanah Pasundan.

Ada banyak pesan moral yang bisa dipetik dari kisah novel ini. Pesan tersebut pada intinya sangat relevan dengan kehidupan masyarakat Indonesia khususnya di Jawa Barat sendiri. Pesan moral yang pertama adalah keharusan untuk menjaga pikiran dan hati agar tetap bersih. Seperti pesan Mama Ajengan yang telah disebutkan di atas, hati dan pikiran yang bersih pada intinya adalah sebuah kemenangan batin bagi manusia yang mencari hakikat hidupnya. Pengendalian diri adalah sesuatu yang dibutuhkan manusia modern saat ini. Derap laju pembangunan terkadang berperan serta dalam pengambilan keputusan hidup manusia. Terkadang jalan pintas, sogok menyogok dan pengabaian nilai normatif sudah menjadi hal yang lumrah.

Sehingga tidaklah mengherankan bila banyak manusia yang kaya secara materi tetapi miskin hatinya. Tentunya bila sikap mampu mengendalikan pikiran dan hati maka fenomena seks bebas yang menjamur di kalangan remaja tidak akan pernah muncul ke permukaan. Pesan moral lainnya yang bisa dijadikan pelajaran adalah selalu memegang teguh pada prinsip agama dan norma yang berlaku di masyarakat. Budaya bangsa Indonesia adalah ke-Timuran. Artinya kultur masyarakat kita masih memegang teguh pada adat istiadat dan ajaran-ajaran religi. Sikap eskapisme Mari dapat menjadi cerminan bahwa masyarakat Indonesia masih menggangap tabu memiliki anak di luar nikah. Hal ini ini didasari anggapan bahwa semua itu adalah proses yang harus dilalui seseorang melalui ritual sakral yang dinamakan pernikahan.

Sayangnya pemahaman itu kini mulai mendapat tentangan di kalangan yang membesarkannya sendiri. Orang-orang kini sudah mulai menganggap sepele sakralnya sebuah pernikahan. Bagi mereka yang berpikiran “terbuka”, rasa cinta, saling pengertian, kemapanan dan toleransi sudah cukup modal untuk membangun keluarga tanpa perlu ritual pernikahan. Corgito ergo sum yang berarti aku ada karena aku berpikir telah membuat sebagian orang di Indonesia mengagungkan logika secara berlebih. Padahal secara empiris, manusia pertama kali mengenal dunia bukan melalui logika tetapi rasa. Ajakan untuk melestarikan adat-adat keTimuran inilah yang tersirat dalam novel tersebut.

Pesan moral terakhir yang bisa diambil pelajaran oleh kita semua adalah jangan pernah menyepelekan ketabahan dan kekuatan seorang wanita. Kisah pilu Mari yang harus membesarkan anaknya seorang diri tanpa kasih sayang ayahnya dan di kemudian hari dia harus melepas pergi sang anak, adalah sebuah perjuangan yang tidak mungkin dilakukan oleh setiap orang khususnya wanita. Pesan moral terakhir ini cukup bernada feminis bila dikaji secara lebih lanjut.

Dalam beberapa budaya manusia, wanita adalah makhluk Tuhan yang acapkali termajinalkan. Kodrat wanita pada intinya berlandas pada empat hal yaitu menstruasi, melahirkan, menyusui dan menopause. Lingkup ruang wanita pun tidak dapat dimungkiri selalu bersentuhan dengan anak, dapur dan kasur. Tidak mengherankan bila wanita dengan kodrat dan tugasnya tersebut seringkali mengalami pelecehan ataupun kekerasan.

Secara tersurat dapat kita ambil inti kehidupan bahwa seterpuruk apapun manusia bahkan seorang wanita dapat kembali bangkit dan mengikhlaskan semua hal telah terjadi pada dirinya. Dalam kisah ini kita diajarkan untuk mengambil hikmah tentang sifat pemaaf dan lapang dada. Sikap Mari yang berlapang dada dan memaafkan kesalahan Sukra merupakan bukti bahwa ia adalah wanita kuat. Sikap demikian adalah sebuah sikap yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang kuat hatinya. Dengan demikian jelaslah bahwa sesungguhnya wanita adalah makhluk yang kuat dan pantas bersanding dengan pria tanpa harus diagung-agungkan atau diinjak. Pesan moral yang cukup brilian dari novel ini dapat menjadi modal awal bagi tiap-tiap individu dalam mengarungi kerasnya hidup. Pengendalian diri, menjaga adat keTimuran dan rasa hormat kepada wanita adalah hal penting yang harus dilakukan oleh manusia modern seperti kita ini.

Dimuat di Matakita.net, November 2010

TANAH PASUNDAN YANG TAK HIJAU LAGI

                                      TANAH PASUNDAN

                                   YANG TAK HIJAU LAGI

                                    Oleh: Iqbal Ramadhan

 

            Membaca berita di Kompas Jabar hari Kamis tanggal 4 November memang miris. Bagaimana tidak, Menteri Lingkungan Hidup Gusti Muhammad Hatta memberikan nilai 49,59 sebagai dampak akibat rendahnya kualitas air dan udara serta penutupan lahan yang rapat. Padahal indikator kesuksesan nasional dalam hal lingkungan hidup adalah 59,79 atau minimal 6. Tidaklah mengherankan bila menteri saja memberikan nilai yang rendah tentang kualitas lingkungan hidup di Jawa Barat ini. Tentunya ini merupakan pukulan telak bagi semua masyarakat yang tinggal di Tanah Pasundan.

            Tidak dapat dipungkiri memang, Jawa Barat saat ini sangat minim dengan penghijaun. Kota-kota besar lebih condong mengedepankan indutri yang tidak bersahabat dengan alam. Indikator dari nilai yang diberikan oleh menteri lingkungan hidup tersebut dinilai dari banyaknya aliran sungai, tebing dan lereng yang tidak tertutupi oleh pepohonan yang rapat. Sedangkan kualitas air dinilai dari pencemaran limbah industri yang dibuang ke sungai. Citarum sebagai salah satu ikon kota Bandung tidak luput dari polusi. Bahkan sungai tersebut pernah mendapat julukan sebagai sungai terkotor di dunia.

            Sebuah ironi yang menyakitkan. Ketika Herman Wilhem Daendels pertama kali membuka jalur pos yang melewati wilayah Jawa Barat, daerah ini adalah belantara hijau yang rapat penuh dengan keeksotisannya. Dalam buku Bandung Tempo Dulu yang dikarang oleh Harry Kunto, terdapat sebuah gambar lukisan sungai Citarum pada abad ke-18 yang dirimbuni oleh pepohonan dengan faunanya yang khas. Saat ini pepohonan yang hijau tersebut sedikit demi sedikit menghilang dari Tanah Pasundan. Wilayah Bandung Utara yang difungsikan sebagai daerah resapan air kini beralih fungsi menjadi pemukiman dan ladang. Kota Bandung kini menjadi panas dan pengap. Lambat laun wilayah Selatan akan tergerus oleh pengalihan fungsi. Hutan yang berfungsi sebagai paru-paru dunia kini terkalahkan oleh materialisme kapitalis semata.

            Dari masalah di atas, penulis mengidentifikasi dua kunci yang menjadi permasalahan. Pertama adalah perubahan pola pikir dari ekosentrisme menjadi antroposentrisme. Sedangkan yang kedua adalah kehilangannya kosmologi lingkungan hidup masyarakat Jawa Barat khususnya Sunda. Ekosentrisme adalah paham yang mengajarkan bahwa manusia dan alam hidup berdampingan. Manusia hidup bersama alam. Keduanya memiliki keterikatan. Manusia membutuhkan alam sedangkan alam sendiri membutuhkan kehadiran manusia untuk mempertahankan eksistensinya.

            Pola pikir tersebut kemudian tergeser dengan datangnya arus informasi, perubahan budaya dan peradaban modern yang memang datang dari Barat. Beberapa hal memang positif dan harus kita ambil seperti etos profesionalisme ataupun teknologi tepat guna. Sayangnya di samping segi positif tersebut, terdapat pula efek negatif yang mengiringinya seperti paham materialisme dan budaya instan. Dari pemikiran kebendaan inilah muncul antroposentrisme yaitu pemahaman bahwa manusia hidup di alam. Manusia adalah pusat dari semua alam, sehingga manusia berhak melakukan apapun karena pusatnya adalah dia. Esensi dari antroposentrisme ini dalam anggapan penulis sangat erat kaitannya dengan ajaran Darwin yaitu survival of the fittest. Sebagai makhluk yang selamat dari proses evolusi, manusia berhak mengeksploitasi alam karena itu memang sudah menjadi haknya.

            Pemahaman seperti itu sangat salah dan bertentangan dengan budaya Timur kita yang penuh dengan norma dan aturan hidup. Sedangkan yang kedua adalah hilangnya kosmologi lingkungan hidup dari masyarakat Jawa Barat. Di dalam kehidupan masyarakat Sunda, dikenal sebuah konsep yaitu tritangtu. Pengertian dari konsep ini adalah masyarakat Sunda memercayai adanya satu kesatuan organik-kosmologik antara tempat hunian (dan ladang), kuburan dan hutan. Bagi urang Sunda, hutan adalah sebuah media penghubung untuk berkomunikasi antara manusia yang hidup saat ini dengan Sang Pencipta. Bahkan secara klasifikasi, konsep ini membagi hutan ke dalam tiga jenis yaitu leuweung larangan, leuweung tutupan dan leuweung baladahan. Leuweung larangan adalah hutan yang tidak boleh dieksploitasi dengan alasan apapun. Sedangkan leuweung tutupan boleh dieksploitasi atas seizin ”abah” yang menghuni hutan tersebut. Terakhir, leuweung baladahan adalah hutan yang boleh dieksploitasi untuk kemaslahatan manusia.

            Mungkin tidak banyak saat ini warga Jawa Barat khususnya Sunda yang mengetahui konsep ini. Kosmologi kehidupan yang diajarkan oleh konsep ini sangat luhur. Bila dikaji secara logika konsep ini mengajarkan bila hutan-hutan dieksploitasi secara berlebih, manusia justru tidak mendapatkan untung. Bencanalah yang akan datang seperti erosi, longsor atau banjir. Tidaklah mengherankan bila Jawa Barat saat ini rawan bencana banjir ataupun longsor.

            Pudarnya konsep ini bisa ditarik benang merahnya dari bergesernya pola pikir ekosentrisme menjadi antroposentrisme. Pemikiran kebendaaan yang hanya melihat secara tersurat bukan tersirat serta pengagungan logika secara berlebih, memudahkan para pengejar materi untuk meraup untung tanpa mengindahkan makna tersirat. Menjamurnya budaya instan dan pola pikir pragmatis mengakibatkan masyarakat Jawa Barat hanya mengejar sesuatu yang bersifat tangible bukan intengible. Padahal yang tampak itu belum tentu bermanfaat bagi keseimbangan antara manusia dan alam.

            Belajar dari nilai buruk inilah, seluruh elemen warga Jawa Barat khususnya masyarakat Sunda yang mayoritas tinggal di dalamnya untuk merenung dan bertindak mengejar ketertinggalan. Belajarlah kembali hidup bersama alam. Manfaatkan seperlunya jangan berlebihan. Bila tidak, suatu saat alam akan membuat perhitungan dan saat itulah kita sudah terlambat menyadarinya.

Penulis adalah alumnus FISIP HI UNPAD. Sekarang bergiat di Forum Investor Bekasi.

Dimuat di HU KOMPAS Jabar, 26 November 2010

http://pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2010/11/kompas-20101126-tanahpasundantakhijaulagi.pdf